SEMUA ADALAH PILIHAN! DOSA YANG KAMU PILIH AKAN KEMBALI KEPADAMU

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Amma ba’du…

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa bukan hanya ucapan, tetapi pilihan hidup. Karena sesungguhnya hidup ini dipenuhi pilihan. Allah memberi manusia akal, hati, dan petunjuk. Tinggal manusia memilih, ingin dekat kepada Allah atau menjauh dari-Nya.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

فَمَنْ شَآءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَآءَ فَلْيَكْفُرْ

“Siapa yang mau beriman silakan beriman, siapa yang mau kufur silakan kufur.”
(QS. Al-Kahfi: 29)

Ayat ini bukan berarti Allah ridha terhadap keburukan. Tetapi Allah sedang menunjukkan bahwa manusia diberi pilihan… dan setiap pilihan memiliki konsekuensi.

Kalau engkau memilih kebaikan… maka kebaikan itu akan kembali kepadamu. Memilih shalat… ketenangan akan kembali kepadamu. Memilih menjaga pandangan… keberkahan akan masuk dalam hidupmu. Memilih jujur… Allah akan menjaga kehormatanmu. Memilih taat… maka keluargamu akan merasakan dampaknya.

Allah berfirman:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ

“Jika kalian berbuat baik, maka kebaikan itu kembali untuk diri kalian sendiri.”
(QS. Al-Isra’: 7)

Sebaliknya… ketika seseorang memilih keburukan… maka jangan salahkan siapa-siapa ketika hidupnya mulai gelap. Karena dosa tidak pernah datang sendirian. Dosa membawa kegelisahan. Membawa kerusakan. Membawa kehancuran.

Hari ini banyak manusia tahu itu salah… tapi tetap dipilih. Tahu itu haram… tapi tetap dilakukan. Kenapa? Karena nafsu sesaat.

Hanya karena beberapa menit kesenangan… rela menukar ketenangan hidup. Hanya karena ingin dipuji manusia… rela dimurkai Allah. Hanya karena mengikuti hawa nafsu… menghancurkan masa depan.

Padahal Allah tidak rugi sedikit pun jika manusia bermaksiat. Agama ini tidak akan runtuh hanya karena ada orang meninggalkan kebaikan.

Silakan memilih keburukan… Allah tidak rugi. Sebagai guru, ustadz, orang tua… kami juga tidak rugi.

Tetapi ingat… keburukan itu akan kembali kepadamu.

Bahkan kadang bukan hanya kepadamu… tapi juga melukai hati orang-orang yang mencintaimu.

Ada ibu yang setiap malam bangun mendoakan anaknya.

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِيْنَ

“Ya Rabbku, anugerahkan kepadaku anak yang saleh.”
(QS. Ash-Shaffat: 100)

Ayahmu mungkin tidak banyak bicara… tapi diam-diam menyebut namamu dalam sujudnya.

Lalu pantaskah setelah semua doa itu… seorang anak justru memilih jalan keburukan?

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Ketika seseorang memilih maksiat, jangan kira dampaknya berhenti pada dirinya sendiri. Ada hati orang tua yang hancur. Ada guru yang sedih. Ada keluarga yang malu. Ada doa-doa yang menangis di langit.

Karena itu sebelum memilih sesuatu… pikirkan bukan hanya tentang dirimu. Tapi pikirkan siapa yang akan ikut merasakan akibatnya.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Khusus kepada para guru, ustadz, dan orang tua… jangan pernah lelah menasihati. Jangan berhenti mengajak kepada kebaikan walaupun terkadang yang dinasihati belum berubah.

Karena Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang mengerjakannya.”
(HR. Muslim)

Bayangkan… ada seorang murid yang rajin shalat karena nasihat gurunya. Ada santri yang berhenti dari maksiat karena petuah ustadznya. Ada anak yang berubah karena didikan orang tuanya.

Maka pahala itu terus mengalir… walaupun mungkin sang guru sudah wafat.

Karena itu wahai para ustadz dan guru… teruslah menanam kebaikan. Jangan kecewa dengan hasil yang belum terlihat. Tugas kita menyampaikan. Hidayah milik Allah.

Bisa jadi satu nasihat yang hari ini diabaikan… beberapa tahun lagi justru menjadi sebab seseorang kembali kepada Allah.

Allah sudah menyiapkan skenario terbaik bagi orang-orang yang ikhlas menebar kebaikan.

Maka pilihlah jalan yang benar. Pilihlah kebaikan walaupun berat. Karena setiap pilihan akan kembali kepada pemiliknya.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْهُمْ مِنَ الصَّالِحِيْنَ الْمُصْلِحِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لِوَالِدِيْنَا الَّذِيْنَ لَا يَتَوَقَّفُوْنَ عَنِ الدُّعَاءِ لَنَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat ihsan, memberi kepada kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.”
(QS. An-Nahl: 90)

فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Post a Comment

Previous Post Next Post