SHOLAT: ANTARA KEWAJIBAN, KEBUTUHAN, DAN KEHORMATAN

 

SHOLAT: ANTARA KEWAJIBAN, KEBUTUHAN, DAN KEHORMATAN

Bismillahirrahmanirrahim.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarganya, para sahabatnya, dan kita semua yang berusaha mengikuti sunnahnya hingga akhir zaman.


Pembukaan

Hadirin yang Allah muliakan, jika hari ini kita masih hidup, masih bisa bernapas, masih bisa mendengar dan duduk di majelis ilmu, itu bukan karena kita pantas. Itu karena Allah masih memberi kita kesempatan.

Pertanyaan sederhana tapi sangat menentukan:

Apa amalan pertama yang akan dihisab saat kita meninggal dunia?

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah sholatnya.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Jika sholatnya baik, baiklah seluruh amalnya. Jika sholatnya rusak, rusaklah seluruh amalnya.

Masalahnya hari ini bukan orang tidak sholat, tapi orang sholat tanpa merasa butuh sholat.


Sholat Bukan Beban, Tapi Kebutuhan

Allah tidak membutuhkan sholat kita. Kita yang membutuhkan sholat.

Allah berfirman:

“Dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku.”
(QS. Thaha: 14)

Allah tidak mengatakan: “Supaya Aku ingat kamu”, tapi “supaya kamu ingat Aku”.

Artinya, sholat adalah alat penjaga kesadaran hidup. Tanpa sholat, hati menjadi liar, pikiran gelap, dan keputusan rusak.

Allah tegaskan:

“Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)

Jika seseorang rajin sholat tapi tetap ringan berbuat maksiat, bukan ayatnya yang salah — sholatnya yang tidak menghadirkan hati.

Badan sholat, tapi pikiran ke mana-mana. Itu bukan sholat, itu gerakan fisik yang kehilangan ruh.


Mengapa Sholat Sering Ditinggalkan?

Jujur pada diri sendiri, kenapa sholat sering ditunda atau disepelekan?

Bukan karena tidak tahu hukumnya, tapi karena tidak memahami nilainya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Perjanjian antara kami dan mereka adalah sholat. Barang siapa meninggalkannya, maka ia telah kafir.”
(HR. Ahmad)

Ini bukan ancaman dari manusia. Ini peringatan dari Nabi ﷺ.

Kita sering takut kehilangan dunia, tapi tidak takut kehilangan sholat. Padahal dunia hilang masih bisa dicari, tapi sholat hilang, iman dipertaruhkan.

Sholat bukan untuk dinegosiasikan, bukan untuk dicicil, dan bukan untuk dikompromikan.


Sholat Adalah Kehormatan

Puasa diperintahkan di bumi. Zakat diperintahkan di bumi. Haji diperintahkan di bumi.

Tapi sholat?

Sholat diperintahkan langsung di langit, saat peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

Tidak lewat malaikat. Tidak lewat nabi lain. Langsung dari Allah.

Kalau sholat tidak penting, Allah tidak akan memanggil Nabi ﷺ langsung ke langit.

Hari ini, adzan berkumandang kita santai. Tapi panggilan dunia kita kejar. Ini bukan soal waktu, ini soal prioritas.


Penutup dan Evaluasi Diri

Ada tiga hal yang harus diperbaiki jika ingin sholat kita menghidupkan iman.

  • Ubah cara pandang: Sholat bukan kewajiban berat, tapi tempat jiwa beristirahat.
  • Disiplin waktu: Jika bisa tepat waktu untuk dunia, tidak ada alasan menunda panggilan Allah.
  • Hadirkan hati: Pahami bacaan dan sadari siapa yang sedang kita hadapi.

Sholat yang benar tidak menjauhkan kita dari dunia, tapi menyelamatkan kita darinya.

Jika hari ini sholat masih bolong-bolong, itu bukan karena belum mampu, tapi karena belum menjadikan Allah prioritas utama.

Dan itu adalah keputusan. Setiap keputusan punya konsekuensi.

Pilihannya jelas: diselamatkan oleh sholat, atau ditinggalkan oleh sholat.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post