Kalau Bulan Ini Tak Mengubahmu, Entah Kapan Lagi?

 

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ شَهْرَ رَمَضَانَ سَيِّدَ الشُّهُوْرِ، وَأَنْزَلَ فِيْهِ الْقُرْآنَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ. نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Jamaah Jumat rahimakumullah, hari ini kita berada di Jumat pertama bulan Ramadhan. Bulan yang selalu dinanti orang beriman. Bulan yang disebut Allah sebagai bulan turunnya Al-Qur’an.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Puasa diwajibkan agar kita menjadi orang yang bertakwa. Bukan sekadar lapar. Bukan sekadar haus. Tapi menjadi manusia yang lebih terkendali, lebih sadar diri, lebih dekat kepada Allah.

Kadang kita ini merasa kuat. Merasa bisa mengatur segalanya. Tapi baru jam sepuluh pagi saja tanpa kopi sudah pening. Baru jam dua siang tanpa makan sudah lemas. Di situlah Allah mendidik kita. Bahwa manusia itu lemah. Supaya kita tidak sombong.

Dalam hadits riwayat Imam Bukhari disebutkan:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Kalau seseorang tidak meninggalkan dusta dan maksiat, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya. Artinya puasa bukan sekadar fisik. Yang paling berat justru menahan lisan, menahan emosi, menahan hati.

Menurut penjelasan Imam Al-Ghazali, puasa itu ada tiga tingkat. Tingkat pertama, puasanya orang awam: menahan makan dan minum. Tingkat kedua, puasanya orang khusus: menahan seluruh anggota badan dari dosa. Tingkat ketiga, puasanya orang paling khusus: menahan hati dari selain Allah.

Kalau puasa kita masih penuh amarah, masih ringan mencaci di media sosial, masih mudah iri dan dengki, berarti yang puasa baru perutnya. Hatinya belum.

Ramadhan adalah sekolah kejujuran. Karena puasa adalah ibadah paling rahasia. Orang bisa melihat kita shalat. Orang bisa tahu kita sedekah. Tapi orang tidak tahu apakah kita benar-benar puasa atau tidak. Maka dalam hadits qudsi disebutkan:

الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang membalasnya. Karena hanya Allah yang benar-benar tahu kualitasnya.

Jamaah sekalian, Ramadhan juga bulan Al-Qur’an:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

Maka jangan sampai Ramadhan berlalu tanpa kita membuka mushaf. Tidak harus langsung satu juz sehari. Satu halaman dengan khusyuk lebih baik daripada satu juz tapi pikiran ke mana-mana.

Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa yang berpuasa karena iman dan berharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Bayangkan, dosa setahun bahkan bertahun-tahun bisa dihapus. Tapi syaratnya satu: iman dan berharap pahala. Bukan karena gengsi. Bukan karena tradisi. Tapi karena Allah.

Ramadhan ini bisa jadi yang terakhir bagi kita. Tidak ada yang bisa menjamin umur panjang. Maka jangan sia-siakan. Minimal ada satu kebiasaan buruk yang kita hentikan tahun ini. Satu dosa yang benar-benar kita tinggalkan.

Kalau Ramadhan tidak mengubah kita, mungkin masalahnya bukan pada bulan itu, tapi pada hati kita.

أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.


Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

Jamaah yang dimuliakan Allah, Ramadhan adalah kesempatan emas. Di bulan ini pahala dilipatgandakan. Doa-doa diijabah. Setan-setan dibelenggu. Maka perbanyak doa terutama menjelang berbuka.

Doakan bukan hanya diri sendiri. Doakan keluarga kita agar menjadi keluarga yang taat. Doakan negeri ini agar diberi keberkahan. Doakan saudara-saudara kita yang sedang dalam kesulitan.

Ramadhan juga bulan berbagi. Jangan sampai kita kenyang sementara tetangga lapar. Sedekah di bulan ini nilainya berlipat ganda.

Semoga ketika Ramadhan selesai, kita bukan hanya turun berat badan, tetapi juga turun dosa-dosa kita. Bukan hanya berubah jadwal makan, tapi berubah akhlak dan keimanan kita.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِنَّا عَلَى صِيَامِ رَمَضَانَ وَقِيَامِهِ وَتَقَبَّلْهُ مِنَّا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ. أَقِمِ الصَّلَاةَ.

Post a Comment

Previous Post Next Post