Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillah, kita masih diberi umur. Sebentar lagi kita akan bertemu bulan yang oleh Allah disebut secara khusus di dalam Al-Qur’an:
“Syahru Ramadhanal ladzi unzila fihil Qur’an…”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Dari dua belas bulan, hanya Ramadhan yang disebut namanya secara langsung dalam Al-Qur’an. Ini tanda kemuliaan. Seakan Allah ingin berkata, “Ini bulan istimewa. Jangan kamu perlakukan seperti bulan biasa.”
Ramadhan bukan hanya tentang lapar dan haus. Ramadhan adalah bulan ketika Allah membuka ruang selebar-lebarnya bagi hamba untuk kembali.
Dalam hadis riwayat Nabi :contentReference[oaicite:0]{index=0} ﷺ disebutkan:
“Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Pintu surga dibuka. Pintu neraka ditutup. Setan dibelenggu. Artinya peluang kebaikan diperbesar, peluang keburukan dipersempit. Kalau dalam keadaan seperti ini kita tetap jauh dari Allah, mungkin masalahnya bukan pada lingkungannya. Tapi pada hati kita.
Puasa Itu Latihan Menjadi Hamba
Allah berfirman:
“Kutiba ‘alaikumush shiyam kama kutiba ‘alalladzina min qablikum la’allakum tattaqun.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Tujuan puasa bukan sekadar lapar. Tujuannya jelas: la’allakum tattaqun, agar kamu bertakwa.
Takwa itu sederhana: merasa diawasi Allah. Orang yang bertakwa tetap jujur meski tidak ada yang melihat. Tetap sabar meski bisa membalas.
Puasa melatih itu. Saat kita sendirian dan haus, kita bisa saja minum. Tidak ada yang tahu. Tapi kita tidak lakukan. Kenapa? Karena merasa Allah melihat.
Itulah inti takwa.
Kisah Nyata: Tukang Bangunan yang Diam-Diam Menangis
Di sebuah desa ada tukang bangunan yang dikenal keras. Shalatnya jarang. Ucapannya kasar. Orang tidak terlalu berharap banyak darinya.
Suatu Ramadhan ia tetap bekerja di bawah terik matahari. Teman-temannya banyak yang tidak puasa. Ia hampir menyerah.
Tapi ia berkata dalam hati, “Ya Allah, mungkin aku tidak punya amal lain. Biarlah hari ini aku menahan lapar hanya karena-Mu.”
Sore itu ia duduk sendirian di mushalla proyek. Air matanya jatuh tanpa suara.
Ramadhan itu tidak langsung menjadikannya wali. Tapi sejak saat itu ia mulai shalat. Mulai menjaga ucapan.
Allah tidak butuh perubahan spektakuler. Allah cukup melihat kejujuran satu hari itu.
Allah Tidak Butuh Lapar Kita
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)
Artinya, puasa bukan sekadar ritual fisik. Ia harus mengubah karakter.
Kalau sebelum Ramadhan kita mudah mencela orang, lalu di bulan Ramadhan tetap mencela, berarti yang berubah hanya jadwal makan. Hatinya belum.
Ramadhan dan Al-Qur’an
Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Ulama besar seperti :contentReference[oaicite:1]{index=1} memperbanyak tilawah di bulan ini. Tapi yang perlu kita tiru bukan hanya jumlah khatamnya. Tapi cintanya kepada Al-Qur’an.
Satu ayat yang dipahami dan diamalkan lebih berat daripada satu juz yang hanya dibaca cepat.
“Inna rahmati wasi’at kulla syai’.”
(Sesungguhnya rahmat-Ku meliputi segala sesuatu — QS. Al-A’raf: 156)
Kalau ayat ini masuk ke hati, kita tidak mudah putus asa.
Kisah Nyata: Seorang Ibu dan Doa Sepertiga Malam
Seorang ibu memiliki anak yang jauh dari agama. Setiap Ramadhan ia bangun lebih awal. Doanya sederhana: “Ya Allah, lembutkan hati anakku.”
Malam ke-27, anak itu pulang dan melihat ibunya tertidur di atas sajadah dengan tasbih di tangan.
Hatinya bergetar. Untuk pertama kalinya ia merasa malu kepada ibunya. Sejak malam itu ia mulai berubah.
Doa di Ramadhan bukan doa biasa. Ramadhan mempercepat jawaban.
Kisah Nyata: Pemuda di Saf Paling Belakang
Ada pemuda yang selalu duduk di saf paling belakang saat tarawih. Ia merasa terlalu kotor untuk berdiri di depan.
Suatu malam imam membaca:
“Qul ya ‘ibadiyalladzina asrafu ‘ala anfusihim la taqnathu mir rahmatillah…”
(QS. Az-Zumar: 53)
Ia menangis. Karena Allah masih memanggilnya “hamba-Ku”.
Sejak malam itu ia datang lebih awal. Perlahan pindah ke saf tengah. Setahun kemudian ia di saf depan.
Bukan karena merasa suci. Tapi karena merasa diterima.
Kisah Nyata: Ayah dan Sedekah yang Berat
Seorang ayah miskin tetap menyisihkan uang kecil untuk sedekah meski dirinya kekurangan.
Istrinya berkata, “Kita saja susah.”
Ia menjawab, “Justru karena susah, kita butuh pertolongan Allah.”
“Wa ma anfaqtum min syai’in fahuwa yukhlifuh.”
(QS. Saba’: 39)
Beberapa bulan kemudian ia mendapat pekerjaan lebih baik. Tapi yang membuatnya menangis bukan gajinya. Melainkan keyakinannya bahwa janji Allah itu nyata.
Kisah Paling Menggetarkan: Ramadhan Terakhir Seorang Kakek
Di sebuah kampung ada kakek sederhana yang setiap Ramadhan selalu berada di saf depan. Jalannya sudah pelan. Nafasnya berat. Tapi ia tidak pernah absen tarawih.
Suatu malam ia berkata kepada cucunya, “Kalau tahun depan Kakek tidak ada, doakan Kakek ya.”
Cucunya tertawa. “Ah, Kakek sehat.”
Tapi ternyata itu Ramadhan terakhirnya.
Malam ke-29 ia masih tarawih. Suaranya lirih saat membaca amin. Idul Fitri pagi ia masih sempat tersenyum setelah shalat.
Beberapa hari kemudian ia wafat.
Orang-orang kampung berkata, “Allah memuliakannya dengan Ramadhan.”
Kita tidak tahu Ramadhan kali ini yang ke berapa bagi kita. Bisa jadi ini yang terakhir.
Ramadhan Selalu Membuka Pintu
Ramadhan bukan bulan orang suci. Ramadhan adalah bulan orang yang ingin pulang.
Mungkin kita seperti pemuda di saf belakang. Seperti tukang bangunan. Seperti ayah yang bingung antara kebutuhan dan sedekah.
Allah tidak menunggu kita sempurna. Allah menunggu kita jujur.
Penutup: Sambut dengan Hati
Jangan hanya siapkan menu sahur. Siapkan istighfar. Jangan hanya siapkan baju lebaran. Siapkan hati yang bersih.
Kalau benar ini Ramadhan terakhir kita, jadikan ia yang terbaik.
Semoga ketika Ramadhan pergi, yang pergi adalah dosa-dosa kita. Dan yang tinggal adalah hati yang lebih lembut.
Allahumma ballighna Ramadhan wa a’inna ‘ala shiyamihi wa qiyamihi.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
