الحمد لله الذي جعل الموتَ حقًّا، والبعثَ حقًّا، والجنةَ حقًّا، والنارَ حقًّا. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، صلّى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلّم تسليمًا كثيرًا.
Mukadimah: Kepastian yang Sering Dilupakan
Kematian adalah kepastian yang tidak mungkin ditolak. Setiap jiwa, tanpa kecuali, pasti akan merasakannya sebagaimana firman Allah:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati." (QS. Ali Imran: 185).
Namun anehnya, meski kematian adalah hal yang paling pasti, justru banyak manusia yang melupakannya. Mereka hidup seolah dunia ini kekal, seolah esok masih bisa diraih, dan seolah ajal bukan ancaman nyata.
Imam Abu Hamid Al-Ghazali (w. 1111 M), seorang hujjatul Islam dan ulama besar dalam tasawuf serta akhlak, menyingkap rahasia mengapa manusia begitu mudah lalai dari mengingat kematian. Dalam Ihya Ulumuddin, ia menjelaskan bahwa lalai dari kematian adalah penyakit hati yang berbahaya karena membuat manusia menunda taubat, malas beribadah, dan tenggelam dalam dunia.
Penyebab Lupa Kematian Menurut Al-Ghazali
Al-Ghazali menyebutkan ada beberapa faktor utama yang menyebabkan manusia melupakan kematian:
1. Tertipu oleh Dunia
Manusia sering diperdaya oleh gemerlap dunia: harta, jabatan, kekuasaan, dan kesenangan sesaat. Dunia yang sejatinya hanya ladang ujian dianggap sebagai tujuan akhir. Inilah yang disebut Allah dalam Al-Qur’an:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ
"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling bermegah di antara kamu serta berlomba dalam memperbanyak harta dan anak." (QS. Al-Hadid: 20).
Kesibukan mengejar dunia membuat hati manusia tertutup dari akhirat. Mereka lupa bahwa setiap detik yang berlalu justru mendekatkan kepada kematian.
2. Panjang Angan-Angan
Penyebab kedua adalah panjang angan-angan. Banyak orang merasa masih punya waktu panjang, sehingga menunda taubat, menunda shalat, atau berbuat kebaikan. Padahal, tidak ada seorang pun yang tahu kapan ajal menjemput.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تُحَدِّثْ نَفْسَكَ بِالْمَسَاءِ، وَإِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تُحَدِّثْ نَفْسَكَ بِالصَّبَاحِ
"Jika engkau berada di pagi hari, janganlah engkau merasa pasti akan sampai sore. Jika engkau berada di sore hari, janganlah merasa pasti akan sampai pagi." (HR. Bukhari).
Panjang angan-angan adalah racun yang membuat manusia merasa aman, padahal ajal bisa datang kapan saja.
3. Lingkungan yang Lalai
Manusia adalah makhluk sosial. Lingkungan sangat memengaruhi cara pandang dan perilaku. Jika seseorang berada dalam lingkungan yang lalai dari mengingat Allah, maka ia akan ikut terlena. Imam Al-Ghazali mengingatkan, bergaul dengan orang-orang yang sibuk dunia tanpa dzikir hanya akan mempertebal kelalaian terhadap akhirat.
Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
"Seseorang tergantung agama (karakter) temannya. Maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan dengan siapa ia berteman." (HR. Abu Daud, Tirmidzi).
4. Hati yang Keras
Penyebab lainnya adalah kerasnya hati. Hati yang keras lahir dari banyaknya dosa, jarang berdzikir, dan jarang merenung. Orang dengan hati keras akan merasa kematian jauh, padahal hakikatnya sangat dekat.
Allah berfirman:
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً
"Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga ia seperti batu, bahkan lebih keras lagi." (QS. Al-Baqarah: 74).
Mengingat Kematian: Obat Lalai
Menurut Imam Al-Ghazali, mengingat kematian (dzikrul maut) adalah salah satu obat paling mujarab untuk melembutkan hati. Rasulullah ﷺ sendiri menganjurkan:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ
"Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan, yaitu kematian." (HR. Tirmidzi).
Dengan sering mengingat kematian, seseorang akan:
-
Lebih giat beribadah karena sadar waktu terbatas.
-
Rendah hati, karena dunia bukan tujuan.
-
Cepat bertaubat dari dosa.
-
Tidak mudah putus asa, karena kematian adalah pintu menuju perjumpaan dengan Allah.
Al-Ghazali menekankan bahwa mengingat mati bukan untuk membuat manusia pesimis, tetapi agar mereka hidup lebih bermakna dan berbekal untuk akhirat.
Buah dari Ingat Kematian
Orang yang mengingat kematian akan memperoleh banyak hikmah:
-
Hidup sederhana: tidak terikat pada harta berlebihan.
-
Rajin beramal: sadar setiap amal akan diperhitungkan.
-
Tenang menghadapi musibah: karena tahu dunia hanya sementara.
-
Siap bertemu Allah: tidak takut mati, justru merindukan perjumpaan dengan-Nya.
Sebaliknya, orang yang lalai dari kematian akan hidup penuh kesombongan, cinta dunia berlebihan, dan menunda taubat. Inilah kerugian yang paling besar.
Penutup: Saatnya Merenung
Saudaraku, kematian bukanlah berita yang jauh. Setiap hari kita mendengar kabar duka, namun jarang kita bercermin bahwa suatu saat nama kita sendiri yang akan disebut.
Imam Al-Ghazali mengingatkan, “Barang siapa yang banyak mengingat mati, maka ia akan dimuliakan dengan tiga perkara: segera bertaubat, hati yang qana’ah, dan semangat beribadah. Barang siapa yang lalai dari mati, maka ia akan diuji dengan tiga perkara: menunda taubat, tidak ridha dengan rezeki, dan malas beribadah.”
Semoga kita termasuk golongan yang selalu ingat mati, sehingga hidup lebih terarah, hati lebih tenang, dan amal lebih ikhlas.
اللهم اجعل خيرَ أعمالنا خواتيمها، وخيرَ أيامنا يومَ نلقاك.
