Allah Tidak Butuh Ibadah Kita

 

Allah Tidak Butuh Ibadah Kita

Allah Tidak Butuh Ibadah Kita

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Alḥamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Waṣ-ṣalātu was-salāmu ‘alā Sayyidinā Muḥammad, wa ‘alā ālihī wa aṣḥābihī ajma‘īn.

Pendahuluan: Meluruskan Cara Pandang tentang Ibadah

Sering kali kita ini keliru sejak awal memandang ibadah. Kita merasa, “Saya salat, Allah senang. Saya puasa, Allah untung. Saya zikir, Allah bertambah mulia.” Padahal sejak awal Al-Qur’an sudah menegaskan satu kaidah besar: Allah sama sekali tidak butuh ibadah kita.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Wahai manusia, kalian semua butuh kepada Allah. Dan Allah itulah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”
(QS. Fāṭir: 15)

Ayat ini sederhana, tapi kalau direnungkan dalam-dalam, bisa bikin orang tawaduk seumur hidup. Yang butuh itu kita. Yang tidak butuh siapa-siapa itu Allah.

Gus Baha sering mengingatkan, “Kalau Allah butuh ibadah kita, berarti Allah lemah. Padahal sifat Allah itu Al-Ghaniy, Maha Kaya.”

Allah Tetap Maha Agung Meski Kita Tidak Ibadah

Kalau seluruh manusia di bumi ini, dari Nabi Adam sampai manusia terakhir, semuanya taat total, salat tidak pernah bolong, zikir siang malam, itu tidak menambah sedikit pun kemuliaan Allah.

Dan kalau seluruh manusia durhaka, kufur, dan maksiat, itu juga tidak mengurangi keagungan Allah sedikit pun.

“Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya manusia dan jin yang pertama hingga yang terakhir, semuanya bertakwa seperti orang yang paling bertakwa di antara kalian, hal itu tidak menambah sedikit pun kerajaan-Ku. Dan seandainya semuanya durhaka seperti orang yang paling durhaka di antara kalian, itu tidak mengurangi sedikit pun kerajaan-Ku.”
(HR. Muslim)

Jadi jelas: ibadah kita tidak pernah memengaruhi Allah.

Ibadah Itu Kebutuhan Kita, Bukan Kebutuhan Allah

Allah memerintahkan ibadah bukan karena Dia butuh, tetapi karena kitalah yang butuh. Allah ingin menyelamatkan manusia dari kerusakan diri sendiri.

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا
“Jika kalian berbuat baik, maka kebaikan itu untuk diri kalian sendiri. Dan jika kalian berbuat buruk, maka keburukan itu juga untuk diri kalian sendiri.”
(QS. Al-Isrā’: 7)

Salat, puasa, zakat, zikir—semuanya kembali manfaatnya kepada kita sendiri.

Gus Baha sering berkata, “Allah itu Maha Welas Asih. Bahkan ketika Allah menyuruh, sejatinya Allah sedang menolong.”

Salat: Allah Tidak Bertambah Mulia, Kita yang Diselamatkan

Salat bukan formalitas. Salat adalah penjaga moral dan hati manusia.

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabūt: 45)

Kalau salat belum mencegah maksiat, bukan karena Allah tidak butuh salat kita, tapi karena kita belum menempatkan salat dengan benar.

Gus Baha mengatakan, “Salat itu obat. Kalau minum obat tapi tidak sembuh, jangan-jangan cara minumnya yang salah.”

Puasa: Allah Tidak Lapar, Kita yang Dididik

Allah tidak lapar ketika kita puasa. Puasa adalah pendidikan jiwa, pengendalian hawa nafsu, dan latihan kejujuran.

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Yang tidak puasa, Allah tidak rugi. Yang puasa, dialah yang untung.

Zikir: Bukan Mengingatkan Allah, Tapi Menghidupkan Hati

Zikir bukan untuk mengingatkan Allah, karena Allah tidak pernah lupa.

وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا
“Tuhanmu tidak pernah lupa.”
(QS. Maryam: 64)

Zikir berfungsi menenangkan hati manusia.

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra‘d: 28)

Jangan Pernah Merasa Berjasa kepada Allah

Merasa berjasa karena ibadah adalah penyakit hati yang halus.

بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ
“Justru Allah-lah yang berjasa karena memberi kalian hidayah iman.”
(QS. Al-Ḥujurāt: 17)

Kalau kita bisa taat, itu bukan karena hebat, tapi karena Allah memberi pertolongan.

Ibadah yang Benar Melahirkan Tawaduk

Orang yang benar ibadahnya justru semakin merasa kecil dan banyak istigfar.

Rasulullah ﷺ yang maksum saja beristigfar lebih dari 70 kali sehari.

Gus Baha sering menegaskan, “Orang yang paling kenal Allah adalah orang yang paling tidak berani sombong.”

Penutup: Kita Ibadah Karena Kita Fakir

Allah Maha Kaya, Maha Agung, dan Maha Sempurna. Ibadah kita tidak menambah apa-apa bagi Allah.

Kitalah yang fakir. Kitalah yang lemah. Kitalah yang butuh rahmat dan ampunan-Nya.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang beribadah dengan penuh kesadaran, syukur, dan kerendahan hati.

Rabbana taqabbal minnā, innaka Antas-Samī‘ul ‘Alīm.
Walḥamdulillāhi rabbil ‘ālamīn.

Post a Comment

Previous Post Next Post