Sholat Masih Dilakukan, Tapi Kenapa Belum Tenang?
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di zaman sekarang, banyak orang yang merasa hidupnya semakin berat. Pikiran penuh, hati gelisah, tidur tidak nyenyak, pekerjaan menekan, masalah keluarga datang silih berganti. Yang menarik, tidak sedikit di antara mereka yang sebenarnya masih menjaga sholat. Lima waktu tetap dikerjakan. Adzan masih dijawab. Masjid masih didatangi. Namun muncul pertanyaan yang sering mengganggu hati:
"Saya masih sholat. Tapi kenapa hati saya belum tenang?"
Pertanyaan ini bukan pertanyaan baru. Bahkan sejak dahulu para ulama telah membahasnya. Sebab memang ada perbedaan antara mengerjakan sholat dan merasakan buah dari sholat. Tidak semua orang yang sholat otomatis mendapatkan ketenangan. Sebagaimana tidak semua orang yang minum obat otomatis sembuh jika cara meminumnya salah.
Padahal Allah telah menjelaskan bahwa salah satu fungsi terbesar sholat adalah menghadirkan ketenangan dan pertolongan dalam hidup.
Allah berfirman:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
"Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat." (QS. Al-Baqarah: 45)
Jika sholat memang sumber pertolongan, lalu mengapa sebagian orang belum merasakan ketenangan setelah melakukannya?
Mari kita renungkan bersama.
Sholat Bukan Sekadar Gerakan
Sering kali kita terbiasa melihat sholat hanya sebagai rangkaian gerakan yang harus diselesaikan. Berdiri, rukuk, sujud, duduk, salam. Setelah itu selesai.
Padahal hakikat sholat jauh lebih besar daripada itu.
Sholat adalah saat seorang hamba menghadap langsung kepada Rabb semesta alam. Saat itulah seorang manusia meninggalkan seluruh urusan dunianya dan berdiri di hadapan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ
"Sesungguhnya salah seorang di antara kalian ketika berdiri dalam sholat, maka ia sedang bermunajat kepada Rabb-nya." (HR. Bukhari)
Kata munajat berarti berbicara secara dekat dengan penuh pengharapan dan cinta.
Bayangkan jika seseorang mendapat kesempatan berbicara langsung dengan orang yang paling ia cintai. Apakah ia akan terburu-buru? Apakah pikirannya akan ke mana-mana?
Tentu tidak.
Namun sering kali ketika sholat, badan kita berada di masjid, tetapi pikiran kita berada di kantor. Hati kita berada di pasar. Khayalan kita berada di media sosial. Akibatnya, yang hadir hanya tubuh, sementara hati tidak ikut menghadap Allah.
Ketika Hati Tidak Ikut Sholat
Para ulama menjelaskan bahwa inti sholat adalah kehadiran hati. Karena itulah Allah memuji orang-orang yang khusyuk.
Allah berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
"Sungguh beruntung orang-orang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam sholatnya." (QS. Al-Mu'minun: 1-2)
Perhatikan baik-baik. Allah tidak mengatakan bahwa yang beruntung adalah orang yang sekadar banyak sholat. Allah menyebut orang yang khusyuk dalam sholat.
Karena khusyuk adalah ruh sholat.
Jika ruh hilang, maka yang tersisa hanya jasad.
Begitu pula sholat. Jika hati tidak hadir, maka yang bergerak hanya tubuh.
Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah mengatakan bahwa setiap sholat yang tidak dihadiri hati, maka manfaatnya sangat sedikit bagi pelakunya.
Kisah Seorang Pedagang yang Gelisah
Dikisahkan ada seorang pedagang yang datang kepada seorang ulama.
Ia berkata:
"Wahai Syaikh, saya tidak pernah meninggalkan sholat berjamaah. Saya juga rajin membaca Al-Qur'an. Tetapi mengapa hati saya tetap gelisah?"
Sang ulama bertanya:
"Apa yang paling sering kamu pikirkan saat sholat?"
Pedagang itu menjawab:
"Harga barang dagangan saya. Utang pelanggan. Keuntungan bulan depan. Persaingan usaha."
Ulama itu tersenyum lalu berkata:
"Kalau begitu badanmu memang berada di masjid, tetapi hatimu masih berada di pasar."
Kalimat ini sederhana tetapi sangat dalam.
Banyak orang mengeluh tidak mendapatkan ketenangan dari sholat, padahal selama sholat pikirannya tidak pernah meninggalkan dunia.
Bagaimana mungkin hati bisa tenang jika sepanjang sholat masih sibuk memikirkan urusan dunia?
Sholat Seharusnya Menjadi Tempat Istirahat
Yang menarik, Rasulullah ﷺ justru menjadikan sholat sebagai tempat beristirahat.
Beliau bersabda:
يَا بِلَالُ أَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ
"Wahai Bilal, istirahatkan kami dengan sholat." (HR. Abu Dawud)
Perhatikan kalimat ini.
Rasulullah ﷺ tidak mengatakan:
"Istirahatkan kami dari sholat."
Tetapi:
"Istirahatkan kami dengan sholat."
Bagi Rasulullah ﷺ, sholat bukan beban. Sholat adalah tempat pulang. Tempat menenangkan hati. Tempat mencurahkan semua keluh kesah kepada Allah.
Hari ini banyak orang justru menganggap sholat sebagai gangguan aktivitas.
Pekerjaan dihentikan karena harus sholat.
Pertemuan ditunda karena harus sholat.
Padahal seharusnya kita memandang sebaliknya. Justru sholatlah yang menyelamatkan kita dari kelelahan dunia.
Dosa Bisa Menghalangi Ketenangan Sholat
Salah satu sebab terbesar seseorang sulit merasakan manisnya ibadah adalah dosa yang terus menumpuk.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ
"Jika seorang hamba melakukan dosa maka akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya." (HR. Tirmidzi)
Awalnya hanya satu titik.
Lalu bertambah.
Lalu bertambah lagi.
Sampai akhirnya hati menjadi keras.
Ketika hati sudah keras, mendengar Al-Qur'an terasa biasa. Mendengar nasihat terasa biasa. Bahkan sholat pun terasa hambar.
Bukan karena sholatnya tidak hebat, tetapi karena hati yang menerima cahaya itu sedang tertutup.
Ibarat sinar matahari yang sangat terang. Jika jendela rumah tertutup rapat, cahaya tidak akan masuk.
Begitu pula hati yang dipenuhi dosa.
Kisah Imam Ahmad dan Rahasia Qiyamul Lail
Dikisahkan bahwa suatu malam Imam Ahmad bin Hanbal menginap di rumah seorang tukang roti.
Sepanjang malam, tukang roti itu terus mengucapkan istighfar sambil bekerja.
Imam Ahmad bertanya:
"Sejak kapan engkau melakukan kebiasaan ini?"
Ia menjawab:
"Sudah bertahun-tahun."
Imam Ahmad bertanya lagi:
"Apa manfaat yang engkau rasakan?"
Tukang roti itu menjawab:
"Setiap doa yang saya panjatkan hampir selalu dikabulkan Allah."
Lalu ia menambahkan:
"Hanya ada satu doa yang belum dikabulkan, yaitu saya ingin bertemu Imam Ahmad bin Hanbal."
Mendengar itu Imam Ahmad menangis dan berkata:
"Demi Allah, ternyata Allah menyeretku datang ke sini karena istighfarmu."
Kisah ini mengajarkan bahwa hati yang bersih karena istighfar akan lebih mudah merasakan kedekatan dengan Allah.
Masalah Bukan Berarti Allah Jauh
Banyak orang mengira bahwa tanda ketenangan adalah tidak adanya masalah.
Padahal para nabi justru menghadapi ujian yang luar biasa berat.
- Nabi Nuh dihina kaumnya.
- Nabi Ibrahim dibakar hidup-hidup.
- Nabi Yusuf dipenjara.
- Nabi Musa dikejar Fir'aun.
- Rasulullah ﷺ diusir dari kampung halamannya.
Apakah mereka tidak tenang?
Justru merekalah manusia yang paling tenang.
Karena ketenangan sejati bukan ketika masalah hilang, melainkan ketika hati yakin bahwa Allah bersama dirinya.
Ketika Nabi Musa berada di depan laut dan di belakang ada pasukan Fir'aun, para pengikutnya panik.
Mereka berkata:
إِنَّا لَمُدْرَكُونَ
"Kita pasti akan tersusul."
Namun Nabi Musa menjawab:
كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ
"Sekali-kali tidak. Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku." (QS. Asy-Syu'ara: 62)
Masalahnya belum selesai.
Laut belum terbelah.
Fir'aun masih mengejar.
Namun hati Nabi Musa sudah tenang.
Inilah ketenangan yang lahir dari iman.
Kenapa Kita Cepat Gelisah?
Salah satu penyebab kegelisahan adalah karena terlalu bergantung kepada makhluk.
Kita merasa tenang jika uang banyak.
Tenang jika pekerjaan aman.
Tenang jika semua orang menyukai kita.
Padahal semua itu bisa berubah dalam sekejap.
Karena itu Allah mengajarkan agar hati bergantung kepada-Nya, bukan kepada dunia.
Allah berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
"Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya." (QS. Ath-Thalaq: 3)
Orang yang bergantung kepada dunia akan ikut gelisah ketika dunia berubah.
Sedangkan orang yang bergantung kepada Allah akan tetap tenang meskipun keadaan berubah.
Bagaimana Agar Sholat Menghadirkan Ketenangan?
Pertama, datang lebih awal.
Jangan menunggu iqamah baru berlari ke masjid. Duduklah sejenak sebelum sholat. Tenangkan hati. Putuskan hubungan sementara dengan urusan dunia.
Kedua, pahami bacaan sholat.
Bagaimana mungkin hati tersentuh jika kita tidak memahami apa yang sedang kita baca?
Ketika membaca:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Sadari bahwa kita sedang memuji Rabb semesta alam.
Ketika membaca:
الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Sadari bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Ketiga, perbanyak istighfar.
Hati yang bersih lebih mudah merasakan nikmatnya ibadah.
Keempat, perbanyak doa setelah sholat.
Curahkan seluruh kegelisahan kepada Allah.
Kelima, jangan jadikan sholat sebagai rutinitas kosong.
Hadirkan rasa bahwa ini mungkin sholat terakhir dalam hidup kita.
Penutup
Saudaraku yang dirahmati Allah...
Jika hari ini engkau masih sholat tetapi belum merasakan ketenangan, jangan buru-buru menyalahkan sholat.
Periksalah hati kita.
Mungkin selama ini yang hadir hanya tubuh, sementara hati masih sibuk mengurus dunia.
Mungkin selama ini kita berdiri menghadap kiblat, tetapi pikiran kita menghadap ke mana-mana.
Mungkin selama ini kita mengerjakan sholat, tetapi belum benar-benar bertemu Allah dalam sholat.
Allah telah memberikan resep ketenangan yang sangat jelas:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang." (QS. Ar-Ra'd: 28)
Sholat adalah dzikir terbesar. Sholat adalah tempat kembali. Sholat adalah pelabuhan bagi hati yang lelah.
Maka jangan sekadar melaksanakan sholat. Hadirlah di dalamnya. Rasakan setiap bacaan. Hayati setiap sujud. Curahkan setiap kegelisahan kepada Allah.
Karena bisa jadi, ketenangan yang selama ini kita cari ke mana-mana ternyata sudah Allah sediakan lima kali setiap hari.
Namanya adalah sholat yang khusyuk.
اللَّهُمَّ اجْعَلِ الصَّلَاةَ قُرَّةَ أَعْيُنِنَا وَرَاحَةَ قُلُوبِنَا وَنُورَ صُدُورِنَا
"Ya Allah, jadikanlah sholat sebagai penyejuk mata kami, ketenangan hati kami, dan cahaya bagi dada kami."
Āmīn Yā Rabbal 'Ālamīn.
